Kamis, 06 November 2008

Nyeri pada Otot ( Myofascial Pain)

oleh dr Lofriman,SpRM
Myofascial pain syndrome merupakan salah satu penyebab nyeri otot kronik yang tersering. Karakteristiknya adalah :
1. Adanya nyeri ekstrim / hebat dan dalam, yang berasal dari satu atau lebih otot dan fascia/lapisan ototnya
2. Adanya satu atau lebih tempat berupa titik hipersensitif/sangat sensitif pada otot yang sakit.
Titik nyeri pada otot atau dibidang kedokteran disebut trigger points dibagi atas laten dan aktif. Laten trigger points adalah trigger points yang dapat dipalpasi/disentuh oleh tangan dan mungkin dapat menyebabkan keterbatasan lingkup gerak sendi disertai kekakuan otot. Pada laten trigger point pasien tidak merasakan nyeri spontan. Pada Trigger points aktif barulah pasien merasakan nyeri spontan pada otot.

Setiap orang sering mengalami beberapa tipe nyeri otot selama hidupnya. Nyeri otot kronik dan berulang-ulang terdapat pada 10% sampai 20% populasi manusia berumur 18 tahun ke atas di Amerika Serikat. Nyeri Otot atau Myofascial dapat menjadi nyeri yang kronik. Nyeri kronik tidak hanya menyebabkan keterbatasan karena nyerinya, tapi juga dapat bertanggung jawab atas terjadinya depresi, gangguan tidur, dan kelainan psikososial. Insiden Myofascial pain syndrome lebih banyak pada wanita dibandingkan pria. Insiden tersering pada seseorang berumur antara 31 sampai 50 tahun.

Stimulasi tekanan pada titik nyeri otot / trigger point akan menyebabkan nyeri yang hebat, bisa nyeri lokal pada otot yang terkena dan nyeri alih pada otot disekitar titik trigger point. Penelitian yang dilakukan oleh Skootsky tahun 1989 mengatakan bahwa nyeri myofascial pada Tubuh bagian atas lebih sering dibandingkan area lain di tubuh. 84 % titik nyeri otot atau trigger points terjadi pada 4 otot ini, yaitu otot trapezius (otot leher) , levator scapula (otot bahu) , infraspinatus (otot penggerak bahu), dan scalenus (otot pinggang atas). Otot upper trapezius merupakan otot trapezius yang tersering terkena myofascial pain syndrome.

Pengompresan dengan es, kompres panas, fisioterapi dengan menggunakan ultrasound diatermy, dan pemijitan atau massage sudah digunakan sebagai terapi untuk trigger points. Dikatakan bahwa terapi diatas digunakan karena secara umum dapat mencapai penurunan nyeri sementara. Beberapa terapi nyeri otot telah diteliti efektifitasnya. Penelitian tersebut termasuk penyuntikan / injeksi, terapi dengan jarum / dry needling, Penyemprotan dengan chlor ethyl spray ( spray & stretch) , transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan relaksasi. Penyuntikan / Injeksi dan spray & stretch merupakan terapi umum yang digunakan sebagai terapi trigger points.

Terapi spray & stretch menggunakan chlor ethyl spray yang disemprotkan pada otot-otot yang terdapat trigger point. Penyemprotan chlor ethyl dilakukan dalam posisi peregangan otot. Tehnik ini dikatakan dapat menghilangkan nyeri pada trigger point. Hilangnya nyeri pada spray & stretch merupakan hasil dari spinal inhibition, peregangan pada otot yang terdapat trigger points akan terblok oleh karena adanya nyeri dan refleks spasme. Stimulasi dingin yang didapatkan dari penyemprotan chlor ethyl akan memblok respon tersebut dan menfasilitasi otot untuk meregang. Chlor ethyl Spray mengurangi excitability motor neuron yang menyuplai otot .

Terapi lain untuk nyeri otot antara lain terapi kompresi iskemik. Terapi ini menggunakan pressure threshold meter (PTM), yaitu suatu alat yang memiliki pengukuran tekanan dengan ujung berbentuk piringan berukuran 1 cm2 untuk menekan permukaan yang akan di terapi. Kompresi iskemik merubah perfusi sirkulasi darah kulit. Hilangnya nyeri pada terapi kompresi iskemik adalah akibat terjadinya hyperemia reaktif pada daerah trigger points serta adanya mekanisme spinal refleks yang memulihkan spasme otot. Adanya tekanan lokal akan memulihkan panjang sarkomer pada otot yang terkena nyeri myofascial, sehingga dapat mengurangi nyeri.
Dokter yang secara khusus menangani nyeri karena otot dan sendi adalah dokter spesialis rehabilitasi medik (SPRM) . Pengobatan nyeri otot diberikan obat anti nyeri, pelemas otot, vitamin atau suplemen saraf. Ditambahkan dengan program terapi fisik (Fisioterapi) berupa pemanasan dengan Diathermy dan juga exercise berupa peregangan pada otot yang sakit.